Minggu, 20 Maret 2011
Koleksi Adio Wlt yg sdh Teruji
Sabtu, 29 Januari 2011
Audio Walet Sangat Menentukan.
Senin, 07 Juni 2010
Aroma Pemikat Burung Walet

Cairan ini khusus untuk sirip, fungsinya untuk mempercepat burung walet membuat sarangnya; menghilangkan bau/aroma kayu dan bau-bau lain yang tidak disukai oleh burung wlet. Dibuat secara tradisional dan dijamin tidak mengandung zat-zat kimia; sudah diuji cobakan di berbagai tempat dan hasilnya cukup memuaskan. Caranya cukup sederhana, yaitu dioleskan pada sirip yang masih kosong atau sirip yang ada sarangnya namun jarang-jarang; tujuan utamanya untuk menambah populasi burung walet disekitarnya. Pemakaian secara rutin (3 minggu sekali) akan didapatkan hasil yang memuaskan.
Rabu, 05 Mei 2010
Kamis, 22 April 2010
Berita Gress dari Kompas
Kepak "Garuda" Menerobos China
Kamis, 22 April 2010 04:56 WIB
Kekuatan kepak burung Garuda yang menandai kekuatan Indonesia diuji. Di tengah upaya meningkatkan daya saing, China merupakan pasar potensial untuk diterobos pengusaha Indonesia. Seberapa menarikkah China bagi investor?
Peluang tak selamanya mudah diraih. Ada yang merasakan kemudahan, tetapi tak sedikit yang merasa sulit menembus dinding Negara Tirai Bambu tersebut.
Komponen investasi, khususnya investasi asing secara langsung (FDI), sangat banyak. Dalam enam bulan terakhir ini, FDI ke China terus naik, mencapai nilai total 8,1 miliar dollar AS.
Apa sebenarnya yang menarik investor asing? Bagaimana Pemerintah China memperlakukan investor asing? Dan, apa pelajaran yang dapat dipetik dari kebijakan Pemerintah China?
Ketua Indonesian Business Association Shanghai Adi Harsono menyebutkan, faktor yang menarik investor asing ke China antara lain pangsa pasar yang sangat besar, iklim investasi yang kondusif, seperti peraturan investasi, infrastruktur, dan sikap pemerintah yang proaktif, serta tersedianya sumber daya manusia yang berlimpah.
”Umumnya, investor asing diperlakukan sangat baik. Mereka dijemput, bukan ditunggu. Mereka disambut red-carpet. Mereka diperlakukan layaknya sebagai investor yang akan mendongkrak ekonomi dan menciptakan lapangan kerja,” kata Adi.
Adi memandang pelajaran yang perlu diambil dari China adalah sikap ”jemput bola”. Pemerintah Indonesia perlu jemput bola dengan memangkas aturan rumit birokrasi, mempermudah perizinan, dan ikut membantu investor memberesi masalah lahan tanah dan masalah perburuhan.
Dia mengingatkan bahwa tidak semua pengusaha Indonesia sukses di China, terutama usaha kecil dan menengah
Indonesia akan sulit berkompetisi dengan China. Pengusaha Indonesia yang sukses biasanya adalah pengusaha yang sudah mapan dengan manajemen yang kuat.
Pengusaha bicara
CEO Garudafood Sudhamek AWS pun angkat bicara. Potensi pasar China luar biasa. Kesenjangan sosial diatasi Pemerintah China dengan cara melakukan reformasi pertanahan, subsidi bagi warga desa (sebesar 55 persen dari penduduk China masih berada di pedesaan), dan pemberian insentif besar-besaran sehingga kesejahteraan rakyat meningkat dan industri dalam negeri berkembang pesat.
Melihat potensi itu, Garudafood masuk untuk berinvestasi dengan cara mengakuisisi salah satu perusahaan, tepatnya di Xiamen, China. Kantor pemasaran ini dibuka untuk membidik pasar China dan sebagai basis untuk ekspor ke negara lain.
”Tetapi, kita juga perlu belajar smart protection dari China. Produk Garudafood tak bisa serta-merta masuk ke gerai-gerai kecil, seperti toko di sekolah,” kata Sudhamek.
Meski insentif sudah tidak banyak lagi, China tetap menarik bagi investor. Pengusaha melihat potensi pasarnya. Biskuit, misalnya. Total pasar di Indonesia mencapai Rp 12 triliun, sementara pasar China bisa mencapai Rp 80 triliun.
”Persoalan cita rasa makanan juga sangat menentukan untuk bisa diterima konsumen China,” ujar Sudhamek.
Sekitar 50 persen konsumsi semen dunia berada di China. Begitu pula baja 30 persen serta kapal pesiar dan jet pribadi 12 persen. Di China kini bermunculan orang-orang black color, pengusaha yang kerap berpakaian serba hitam, termasuk kartu kreditnya. Pekerjaannya tidak jelas, tetapi mereka jagoan melobi bisnis.
Ketua Asosiasi Peternak dan Pedagang Sarang Walet Indonesia (APPSWI) Bidang Perdagangan Boedi Mranata mengaku sulit memasuki pasar China. Produk sarang burung Indonesia masih dituding membawa virus flu burung (avian influenza). Padahal, potensi sarang burung Indonesia sebanyak 80 persen dipasok untuk memenuhi kebutuhan pasar dunia, antara lain China, Hongkong, Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, dan Jepang.
”Pedagang eceran di China sih secara terang-terangan bilang sarang burung Indonesia sangat bagus dan banyak dicari konsumen,” kata Budi.
Larangan produk sarang burung Indonesia memasuki pasar China dilakukan oleh satu pintu, yaitu Department of Supervisions on Animal and Plant Quaratine of General Administration of Quality Supervision Inspection and Quarantine.
Apabila virus H5N1 dijadikan alasan, Budi secara tegas membantah. Pola hidup burung walet sangat jarang berelasi dengan unggas lain. Kemudian, sarang burung dihasilkan dari air liur walet dan prosesnya pun dikeringkan terlebih dahulu. Begitu pula sarang burung itu diproses dengan cara dimasak sehingga virus dipastikan mati.
Setiap tahun, total ekspor sarang burung walet diperkirakan mencapai 400 ton. Sekitar 250 ton diekspor ke China, tetapi ekspor dilakukan melalui negara-negara lain. ”Kalau pintu ekspor bisa dibuka oleh China, harga sarang burung Indonesia tentu bisa sangat kompetitif dibandingkan dengan negara lain,” ujar Budi.
Bagi Indonesia, menurut Budi, dari total nilai ekspor ke China yang mencapai 14 miliar dollar AS, kontribusi yang diberikan sarang burung walet sekitar 4 persen. Tentu, apabila China mengizinkan impor langsung, sarang burung walet bisa masuk sepuluh besar andalan ekspor Indonesia.
Direktur JSP Toys Factory Fakhrudin selaku produsen mainan anak-anak di Demak, Jawa Tengah, mengatakan, citra ”Made in China” memang sudah merekat di seluruh dunia. Karena itu, tanpa perlu bersaing di pasar China, potensi pasar mainan anak sesungguhnya tetap terserap di seluruh dunia.
Bagi Fakhrudin, China merupakan tempat untuk belajar melihat tren pasar. Berbagai model mainan terus diciptakan. ”Jangan dikira semua mainan anak-anak asal China murah. Sentuhan teknologi sudah membuat mainan tertentu tinggi,” kata Fakhrudin, yang bolak-balik ke China.
Itulah sebuah jalan yang sesungguhnya bisa dijadikan pilihan investor Indonesia lainnya!(osa)
Senin, 19 April 2010
Masih Tentang Sarang Burung Walet
Klipping berita untuk diketahui bersama :
Bangunan tinggi menjulang tampak berderet di sepanjang pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa. Bukan rumah penduduk, tapi properti tersebut milik para peternak burung walet.
“Dulu Jawa adalah rajanya untuk perdagangan sarang burung walet. Namun kini mulai susut dan tergantikan oleh Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi. Tapi meski begitu, secara nasional kita masih penghasil terbesar di dunia dari sejak 200 tahun yang lalu sampai sekarang,” ujar Ketua Asosiasi Peternak dan Pedagang Sarang Walet Indonesia (APPSWI), Wakyudin Husein, Jumat (9/4).
Di Jawa, peternakan walet membentang di pantai Gresik, Tuban, Lamongan hingga Brebes, Tegal, dan Pekalongan di Jawa Tengah. Sampai sekarang, hampir 100% pangsa pasar komoditi ini menyasar pasar ekspor dengan negara tujuan utama China.
Sayangnya, meski perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China telah berlaku sejak 1 Januari 2010, bagi pengusaha sarang walet itu hanya perjanjian abal-abal alias palsu.
Berdasarkan perjanjian FTA, seluruh komoditi Indonesia tidak lagi dikenakan BM saat masuk ke pasar China, kecuali yang ada di sensitive list seperti keramik dan baja. Faktanya, sarang walet dari Indonesia masih dikenakan BM oleh pemerintah sebesar 17%. “Karena itu saya bertanya, apa gunanya ada FTA kalau kondisi di lapangan ternyata seperti ini. Barang China bisa bebas masuk ke Indonesia. Sementara kami dipersulit masuk ke China,” keluh Wahyudin.
Hingga saat ini, menurut Wahyudin, volume ekspor sarang walet ke China mencapai 500 hingga 600 ton tiap tahun dengan harga jual mencapai Rp 19 juta per kilogram. Dengan asumsi itu, maka total transaksi sarang walet Indonesia ke China per tahun sekitar 9,5 triliun. Jika pedagang Indonesia masih dikenakan BM sebesar 17% yang seharusnya sudah 0% sejak berlakunya FTA, maka dipastikan potensi kerugian Indonesia mencapai Rp 1,6 triliun dalam setahun. “Sekarang sudah jalan tiga bulan. Itu sama halnya kita sudah membuang Rp 400-an miliar sejak awal tahun,” keluhnya.
Selain masih dikenakan BM, lanjutnya, pemerintah China hampir selalu mempersulit realisasi ekspor dari Indonesia dengan serangkaian perijinan dan proses administrasi yang berbelit. Ujung-ujungnya, tambah Wahyudin, para eksportir Indonesia harus mengirim barangnya melalui Hongkong dan baru di re-export ke China. “Sepertinya ini juga politik perdagangan China agar edit value ekspor sarang walet Indonesia ke China juga masuk ke Hongkong. Padahal, harusnya kalau bisa langsung masuk ke China, harga yang sekarang sekitar Rp 19 uta per kg bisa menjadi Rp 21 juta per kg. Selama ini selisih Rp 2 juta tersebut masuk ke Hongkong,” urainya.
Pengusaha sarang walet juga harus rela merek dagangnya didzolimi oleh para pengusaha Hongkong. Tiap mengirim sarang walet dari Indonesia ke China, pengusaha Hongkong selalu menggunakan packaging dengan merek mereka. “Alasannya kalau pakai merek Indonesia pasar China tidak mau karena takut flu burung. Padahal kan walet bukan jenis unggas dan dia hidup liar,” tukas Wahyudin.
Anehnya, menurut Wahyudin, kesulitan yang sama tidak berlaku untuk negara-negara ASEAN lain yang juga merupakan penghasil sarang walet. Menurutnya, pemerintah China saat ini telah mau memberlakukan BM 0% untuk sarang walet dari Malaysia, Singapura, Vietnam dan Thailand. “Karena itu saya jadi mempertanyakan bargaining pemerintahan kita dalam perjanjian FTA ASEAN-China ini. Negara lain BM-nya sudah 0%, kenapa kita masih 17%,” tukasnya.
Untuk menghadapi masalah di atas, Wahyudin mengaku bingung harus berkeluh kesah ke mana. “Secara peraturan atau undang-undang, biasanya yang pemerintah setempat terapkan ke kami adalah peraturan dari Dinas Kehutanan. Tapi kalau masalah pembinaan dan budidaya, biasanya kami dilempar ke Dinas peternakan,” urainya.
Namun demikian, saat berurusan dengan Dinas Peternakan, Wahyudin mengaku juga kerapkali disarankan ke Dinas Perdagangan karena menyangkut potensi ekspor. Dinas Perdagangan pun menurutnya selalu lepas tangan karena hanya mengurusi permasalahan perdagangan semata.
