
Sarang burung walet jenis merah ini harganya cukup mahal dibandingkan dengan yang biasa (putih).
Klipping berita untuk diketahui bersama :
Bangunan tinggi menjulang tampak berderet di sepanjang pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa. Bukan rumah penduduk, tapi properti tersebut milik para peternak burung walet.
“Dulu Jawa adalah rajanya untuk perdagangan sarang burung walet. Namun kini mulai susut dan tergantikan oleh Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi. Tapi meski begitu, secara nasional kita masih penghasil terbesar di dunia dari sejak 200 tahun yang lalu sampai sekarang,” ujar Ketua Asosiasi Peternak dan Pedagang Sarang Walet Indonesia (APPSWI), Wakyudin Husein, Jumat (9/4).
Di Jawa, peternakan walet membentang di pantai Gresik, Tuban, Lamongan hingga Brebes, Tegal, dan Pekalongan di Jawa Tengah. Sampai sekarang, hampir 100% pangsa pasar komoditi ini menyasar pasar ekspor dengan negara tujuan utama China.
Sayangnya, meski perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China telah berlaku sejak 1 Januari 2010, bagi pengusaha sarang walet itu hanya perjanjian abal-abal alias palsu.
Berdasarkan perjanjian FTA, seluruh komoditi Indonesia tidak lagi dikenakan BM saat masuk ke pasar China, kecuali yang ada di sensitive list seperti keramik dan baja. Faktanya, sarang walet dari Indonesia masih dikenakan BM oleh pemerintah sebesar 17%. “Karena itu saya bertanya, apa gunanya ada FTA kalau kondisi di lapangan ternyata seperti ini. Barang China bisa bebas masuk ke Indonesia. Sementara kami dipersulit masuk ke China,” keluh Wahyudin.
Hingga saat ini, menurut Wahyudin, volume ekspor sarang walet ke China mencapai 500 hingga 600 ton tiap tahun dengan harga jual mencapai Rp 19 juta per kilogram. Dengan asumsi itu, maka total transaksi sarang walet Indonesia ke China per tahun sekitar 9,5 triliun. Jika pedagang Indonesia masih dikenakan BM sebesar 17% yang seharusnya sudah 0% sejak berlakunya FTA, maka dipastikan potensi kerugian Indonesia mencapai Rp 1,6 triliun dalam setahun. “Sekarang sudah jalan tiga bulan. Itu sama halnya kita sudah membuang Rp 400-an miliar sejak awal tahun,” keluhnya.
Selain masih dikenakan BM, lanjutnya, pemerintah China hampir selalu mempersulit realisasi ekspor dari Indonesia dengan serangkaian perijinan dan proses administrasi yang berbelit. Ujung-ujungnya, tambah Wahyudin, para eksportir Indonesia harus mengirim barangnya melalui Hongkong dan baru di re-export ke China. “Sepertinya ini juga politik perdagangan China agar edit value ekspor sarang walet Indonesia ke China juga masuk ke Hongkong. Padahal, harusnya kalau bisa langsung masuk ke China, harga yang sekarang sekitar Rp 19 uta per kg bisa menjadi Rp 21 juta per kg. Selama ini selisih Rp 2 juta tersebut masuk ke Hongkong,” urainya.
Pengusaha sarang walet juga harus rela merek dagangnya didzolimi oleh para pengusaha Hongkong. Tiap mengirim sarang walet dari Indonesia ke China, pengusaha Hongkong selalu menggunakan packaging dengan merek mereka. “Alasannya kalau pakai merek Indonesia pasar China tidak mau karena takut flu burung. Padahal kan walet bukan jenis unggas dan dia hidup liar,” tukas Wahyudin.
Anehnya, menurut Wahyudin, kesulitan yang sama tidak berlaku untuk negara-negara ASEAN lain yang juga merupakan penghasil sarang walet. Menurutnya, pemerintah China saat ini telah mau memberlakukan BM 0% untuk sarang walet dari Malaysia, Singapura, Vietnam dan Thailand. “Karena itu saya jadi mempertanyakan bargaining pemerintahan kita dalam perjanjian FTA ASEAN-China ini. Negara lain BM-nya sudah 0%, kenapa kita masih 17%,” tukasnya.
Untuk menghadapi masalah di atas, Wahyudin mengaku bingung harus berkeluh kesah ke mana. “Secara peraturan atau undang-undang, biasanya yang pemerintah setempat terapkan ke kami adalah peraturan dari Dinas Kehutanan. Tapi kalau masalah pembinaan dan budidaya, biasanya kami dilempar ke Dinas peternakan,” urainya.
Namun demikian, saat berurusan dengan Dinas Peternakan, Wahyudin mengaku juga kerapkali disarankan ke Dinas Perdagangan karena menyangkut potensi ekspor. Dinas Perdagangan pun menurutnya selalu lepas tangan karena hanya mengurusi permasalahan perdagangan semata.
CAFTA Tiongkok Diminta Terima Sarang Walet RI
Istimewa
Menteri Perdagangan Tiongkok Chen Deming (kiri) dan Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Peternak Pedagang Sarang Walet Indonesia (APPSWI) Boedi Mranata dalam pertemuan pembahasan ekspor di Yogyakarta, baru-baru ini.
[JAKARTA] Indonesia sebagai negara penghasil sarang burung walet terbesar di dunia ingin dapat mengekspor langsung sarang burung walet ke Tiongkok tanpa melalui negara ketiga. Hal itu untuk mengurangi kebergantungan pada negara perantara dan bisa mendongkrak nilai ekspor Indonesia secara signifikan.
“Sepuluh tahun terakhir ini, kita sulit mengekspor langsung sarang burung walet ke Tiongkok. Padahal, perdagangan komoditas itu sudah berlangsung 500 tahun lalu,” kata Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Peternak Pedagang Sarang Walet Indonesia (APPSWI) Boedi Mranata di Jakarta, Jumat (9/4).
Dikatakan, Indonesia tidak bisa langsung mengekspor sarang burung walet karena isu flu burung (H5N1). Sementara itu. Filipina, Malaysia, dan Singapura, boleh langsung mengekspor komoditas itu ke Tiongkok. Indonesia terpaksa menggunakan jasa tiga negara itu atau lewat Hong Kong untuk masuk ke pasar Tiongkok.
Persoalan ekspor langsung itu juga dibahas dalam pertemuan perjanjian per- dagangan bebas China-ASEAN Free Trade Agreement (CAFTA) di Yogyakarta, baru-baru ini. Saat itu, hadir Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dan Mendag Tiongkok Chen Deming. Mari meminta Deming agar sarang burung walet Indonesia bisa diekspor langsung ke Tiongkok.
Boedi menyambut gembira pernyataan Mari terhadap kasus ekspor sarang burung walet Indonesia. “Mendag menaruh perhatian be-sar terhadap kasus ini,” kata Boedi.
Pada kesempatan itu, Chen Deming menyatakan, pada prinsipnya pihaknya setuju dan akan mengirim Badan pengawasan, inspeksi, dan karantina Tiongkok (AQSIQ) untuk menindaklanjuti permasalahan itu.
Boedi melanjutkan, jika Tiongkok menerima usulan Indonesia, maka ekspor sarang burung walet nasional diperkirakan naik 50-100% dari total ekspor nasional selama 2009 mencapai US$ 226 juta.
Artinya, devisa yang bisa dinikmati Indonesia dari komoditas ini bisa mencapai US$ 400 juta yang berarti masuk 10 besar andalan ekspor nonmigas Indonesia. Tiongkok juga diuntungkan karena harga komoditas ini menjadi lebih murah karena tidak ada lagi biaya pihak ketiga.
Produksi 80%
Indonesia tahun lalu memproduksi sekitar 70-80% dari total produksi sarang burung walet dunia. Sementara Tiongkok menyerap lebih dari 60% total perdagangan sarang burung walet dunia.
Selain ke Tiongkok, Indonesia juga mengekspor sarang burung walet ke Hong Kong, Taiwan, Singapura, Malaysia, AS, dan Kanada.
Menurut data BPS, tahun lalu Indonesia mengekspor sarang burung walet ke Singapura sebesar US$ 61,27 juta. Singapura kemudian mengekspornya ke Tiongkok.
Menurut Boedi, isu virus H5N1 sangat merugikan bisnis walet Indonesia. Padahal, hasil pemeriksaan tidak pernah sekalipun walet terjangkit virus H5N1. Ini terkait cara hidup walet yang tak pernah hinggap dan kontak dengan unggas atau burung liar lainnya.
Tiongkok mensyaratkan, komoditas itu harus dipanaskan minimal 70 derajat celcius selama 3,5 detik. Dengan demikian mengatasi virus H5N1 tidak susah.
“Dengan penanganan standar itu, Tiongkok seharusnya tidak perlu khawatir terhadap produk ekspor sarang walet dari Indonesia,” katanya.[M-6]

